Bisnis Properti 2015 Bakal Naik, meski Tahun Ini Menurun

RIMANEWS- Pasar Properti  menurun pada 2014 ini. Namun pelaku usaha properti dalam negeri memprediksikan bisnis properti akan kembali booming seperti halnya usai krisis 2008, setelah tahun politik berlalu.
Direktur PT Pakuwon Jati Tbk Sutandi Purnomosidi mengatakan pada pertengahan 2013 memang sempat terjadi perlambatan dalam penjualan properti, tetapi diperkirakan pada 2015 akan kembali merangkak naik.
Apakah di tahun 2014 ini penjualan properti akan mengalami peningkatan yang sangat pesat? Saya sangat tertarik untuk mulai menapaki bisnis di dalam bidang properti. Dan saya pernah membaca di suati situs koran online terkenal tanah air bahwa untuk tahun 2014 menurut ramalan adalah tahun yang akan berbuah manis jika digunakan untuk memulai bisnis. Bagaimana menurut Property Kita, tepatkah jika saya memulai bisnis properti saya di tahun ini?

Jawaban

Saat ini banyak daerah di Indonesia yang sedang mengalami krisis dikarenakan banjir yang menyerang banyak tempat. Tahun baru baru saja berlalu tapi nampaknya sudah banyak bencana yang menerpa tanah air. Bagaimana dengan bisnis properti untuk tahun ini? Dengan berbagai kondisi yang ada nampaknya bisnis properti tidak akan memiliki keuntungan yang sangat siknifikan. Ada beberapa alasan utama yang mendukung mengapa bisnis properti kecil akan sulit untuk mengalami peningkatan yang bagus.

Peningkatan Nilai BI Rate

Salah satu alasan utama mengapa penjualan properti akan sulit mengalami peningkatan yang siknifikan untuk tahun 2014 ini adalah dikarenakan adanya peningkatan nilai BI Rate yang dirasa sudah terlampau memberatkan bagi masyarakat. BI memang sudah menetapkan peningkatan Rate sejak tahun 2013 yang lalu. Dan peningkatan nilai tersebut secara langsung memicu pihak bank untuk meningkatkan nilai kredit perbankan yang dimilikinya. Dengan adanya peningkatan nilai tersebut maka KPR akan juga mengalami peningkatan bunga. Padahal saat ini pendapatan masyarakat juga tidak terlampau bagus sehingga besar kemungkinan daya beli masyarakat juga akan mengalami penurunan dalam bidang properti. Peningkatan nilai dari BI tersebut juga mendorong terjadinya kredit macet yang juga akan berimbas pada melemahnya bisnis di bidang properti.

Aturan Loan to Value

Adanya aturan Loan to Value (LTV) dari Bank Indonesia juga menjadi penyebab akan penjualan properti yang semakin menurun di tingkat pengembang. Dengan aturan pembatasan pinjaman tersebut masyarakat bukan tidak mungkin akan melakukan penundaan atau bahkan pembatalan pembelian hunian. Dengan demikian besar kemungkinan usaha bidang properti akan mengalami penurunan atau perlambatan untuk tahun 2014 ini.

Banjir Dan Inflasi

Untuk kota-kota besar yang mengalami banjir parah seperti saat ini, para konsumen juga akan melihat ketiadaan ketertarikan untuk membeli lahan dan juga perumahan yang ternyata memiliki tingkat banjir dan bencana yang besar. Para pengembang ketika membangun perumahan di suatu daerah akan memberikan janji bebasnya daerah tertentu dari bencana banjir. Namun saat ini seolah-olah banjir sudah merata ke semua daerah terutama ke ibukota sehingga mau tidak mau para konsumen akan memikirkan ulang jika ingin membeli properti di suatu daerah tertentu. Belum lagi penurunan nilai rupiah terhadap dollar Amerika juga akan menurunkan tingkat beli masyarakat akan properti tanah air. Jika hal ini tidak segera diatasi, maka bidang properti akan semakin melambat.
Direktur PT Pakuwon Jati Tbk Sutandi Purnomosidi mengatakan pada pertengahan 2013 memang sempat terjadi perlambatan dalam penjualan properti, tetapi diperkirakan pada 2015 akan kembali merangkak naik.
"Begitu pemilu selesai, pemerintahan terbentuk dan satu tahun setelah itu pasti nanti boominglagi," katanya kepada Bisnis, Jumat (10/1/2014).
Menurutnya, harga properti di Indonesia masih memiliki peluang yang banyak untuk bisa tumbuh menjadi investasi menarik.
Properti Indonesia tidak perlu dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang harganya jauh lebih mahal. Namun, cukup dibandingkan dengan harga properti di Bangkok Thailand.
Di Bangkok, harga sebuah apartemen di tengah kota mencapai sekitar Rp80 juta/m2, dibandingkan dengan Jakarta di kawasan CBD yakni sekitar Rp55 juta/m2, dan di Surabaya harga apartemen tengah kota yakni Rp35 juta/m2.
"Kalau melihat kondisi perbedaan harga itu, ke depan harga properti masih ada peluang untuk bergerak naik. Apalagi di Surabaya, properti akan lebih ramai," ujarnya.
Dia mengatakan pembeli properti di kota besar saat ini cenderung memilih hunian vertikal atau apartemen mengingat harga lahan yang semakin mahal. Hunian vertikal menjadi pilihan satu-satunya agar penghuninya bisa tetap beraktivitas di tengah kota.
"Kondisi 2-3 tahun lalu, dimana booming properti membuat harga tanah menjadi mahal. Kalau mau beli hunian landed secara keuangan tidak terjangkau, akhirnya banyak yang tinggal di rumah vertikal karena tinggal di tengah kota, dengan fasilitas lengkap, dari pada harus tinggal  jauh ke pinggir kota," ujar Sutandi.
Dia mengungkapkan, sejak apartemen Waterplace Pakuwon Indah Surabaya dibangun pada 2006, hingga kini tingkat huniannya sudah 70%, dan sisanya diperkirakan dalam masa pergantian pemilik atau penghuni.

http://www.rimanews.com/read/20140130/139769/bisnis-properti-2015-bakal-naik-meski-tahun-ini-menurun

Komentar