- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pasar Properti "Reborn" Awal 2015
11 September 2014 12:42 Satoto Budi
| Antara / dok |
Tidak hanya transaksinya yang naik signifikan, harga jualnya pun juga naik gila-gilaan. Unit terjual juga sangat tinggi.
Hal itu disampaikan Ali, Direktur dan Member Broker Century 21 Pertiwi saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Prospek Bisnis Properti di Era Pemerintahan Jokowi-JK, Peluang dan Tantangan, di Jakarta, pekan lalu.
Menurutnya, hal itu terjadi karena pada tahun-tahun tersebut banyak perusahaan tambang migas dan perkebunan sedang “panen”. Jadi, uang mereka banyak, kemudian diinvestasikan lagi di bidang properti.
Mereka membeli properti di lokasi-lokasi yang prime dengan harga yang tinggi. Ini kemudian berdampak terdongkraknya harga properti secara signifikan.
Selain itu, tingginya harga properti di Jakarta, kata Ali, disebabkan ketersediaan lahan di Jakarta sudah sangat terbatas, sedangkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7-8 persen.
Artinya, perekonomian Indonesia bergerak kencang serta membutuhkan lahan-lahan dan ruang-ruang baru untuk ekspansi usaha.
“Informasi yang saya dapat saat ini harga tanah di Menteng sudah mencapai Rp 150 juta per meter persegi, sedangkan di Kebayoran Baru dan Permata Hijau Rp 50 juta per meter persegi,” ujarnya.
Menyinggung soal melambatnya transaksi properti di 2014, Ali melanjutkan, terjadi karena tahun ini ada regulasi yang dikeluarkan pemerintah di sektor tambang yang melarang dan membatasi perusahaan pertambangan mengekspor mineral mentah.
Ditambah lagi adanya krisis global sehingga permintaan ekspor terhadap hasil pertambangan dan perkebunan juga menurun. “Kondisi inilah yang kemudian menjadi faktor utama mengapa transaksi properti pada tahun ini mengalami perlambatan,” ujarnya.
Tidak hanya itu, kebijakan pembatasan KPR (kredit pemilikan rumah) atau yang dikenal LTV (loan to value) dan pembatasan kredit konstruksi untuk sektor properti juga menjadi penyebab pengembang properti menengah bawah yang modalnya pas-pasan rontok satu per satu. Sementara itu, pilpres dan pileg pengaruhnya tidak signifikan pada sektor properti.
Lantas bagaimana dengan pemerintahan baru, menurut Ali, peluang untuk menaikkan derajat properti seperti tahun 2012-2013, di era Jokowi-JK sangat besar. Ini karena pasar memberikan respons positif pada calon presiden dan wakil presiden ini.
Bahkan, pasar juga yakin Jokowi-JK dan kabinet yang diusungnya nanti mampu menyelesaikan berbagai persoalan menahun yang terjadi selama ini. Bahkan, dukungan internasional terhadap pemerintahan Jokowi-JK juga besar.
“Prediksi saya, pada awal 2015, pasar properti akan reborn. Ini bisa terjadi karena adanya dukungan dari dalam dan luar negeri terhadap pemerintahan baru yang membuat investor makin percaya diri untuk menanamkan modal dan melakukan ekspansi usaha.
Sumber : Sinar Harapan
http://sinarharapan.co/news/read/140911034/pasar-properti-reborn-awal-2015-
Komentar
Posting Komentar